Senin, 25 Februari 2013



Kapan sebenarnya Kerajaan Islam Samudera Pasai berdiri tidak ada suatu kepastian tahun yang didapat. Para peminat dan ahli sejarah masih belum bisa memperoleh suatu kesepakatan mengenai hal ini. Menurut tradisi dan berdasarkan penyelidikan atas beberapa sumber sementara, terutama yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat khususnya para sarjana Belanda sebelum perang seperti Snouck Hurgronye, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain, menyebutkan, bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke XIII. Dan sebagai pendiri kerajaan ini adalah Sultan Malik As Salih yang meninggal pada tahun 1297.
Selain pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana Belanda itu, baik dalam seminar Sejarah,  masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan sejak tanggal 17 s/d 20 Maret 1963, maupun dalam seminar,  masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh, yang berlangsung di Banda Aceh. Pada tanggal 10 s/d 16 Juli 1978, oleh beberapa sejarawan dan cendikiawan Aceh pada masa itu, (diantaranya Prof. Buya Hamka, Prof.  Ali Hasjmy, Prof. H. Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said dan M.D. Mansoer), yang ikut serta dalam kedua seminar tersebut telah pula melontarkan beberapa pendapat dan dalil-dalil baru yang berbeda, dengan yang lazim dikemukakan oleh para sarjana Belanda, seperti yang  tersebut di atas. Berdasarkan beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru yang mereka kemukakan diantaranya, keterangan-keterangan para musafir Arab,  tentang Asia Tenggara,  yang menurut sejarah, pertama masuknya Islam seluruh asia Tenggara adalah di Aceh masa itui, dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich.
Raja-raja di Kerajaan Aceh, mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M). Dan sebagai pendiri serta sultan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah,  yang memerintah pada tahun 433-470 H itu, atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.Atas dasar peninggalan-peninggalan dan penemuan-penemuan dari hasil penggalian dan yang dilakukan oleh Dinas Purbakala,  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dapat diketahui bahwa lokasi kerajaan ini di daerah Samudera pasai yaitu di Geudong  yang  disebut-sebut Malikussaleh, ini dikenal oleh Masyarakat banyak, dengan nama Pasai.
Adapun sebagian para sejarawan, yaitu suatu daerah di pantai Timur Laut Pulau Sumatera yang terletak  antara dearah Peusangan dengan Sungai Jambo Aye di kabupaten Aceh Utara,  Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang menyelidiki tentang kerajaan ini,  menyatakan bahwa Pasai mula-mula terletak di sebelah kanan Sungai Pasai, sedangkan Samudera berada di sebelah kirinya, tetapi lama kelamaan Samudera dan Pasai ini menjadi satu dan disebut Kerajaan Samudera PasaiMenurut  berita-berita luar,  yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini,  letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.
Nama Samudera dan Pasai sudah popular,  yang disebut-sebut , baik oleh sumber-sumber  dari Cina,  Arab,  dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti  Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365), pada abad ke XIII dan ke XIV M. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini, ada berbagai pendapat,  menurut  J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi, yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se.
Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai .
Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand,  dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley,  dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab, tentang Asia Tenggara.
Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke VII M, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab.
Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondasi-fondasi, atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Mohammad Said, salah seorang wartawan, dan cendikiawan-cendikiawan Indonesia,  yang berkecimpung dengan penelitiannya,  tentang kerajaan ini, dan kerajaan Aceh.
Dalam pasarannya,  berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Aceh khusnya dan umumnya Indonesia, berkesimpulan bahwa,  istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M. Seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina,  adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai. Sehubungan dengan asal nama kerajaan Samudera Pasai ini,dalam  Hikayat Raja-raja Pasai, salah sebuah Historiografi Melayu,  yang banyak mengandung unsur-unsur Mythe, Legenda, Geneologi dan Sejarah di dalamnya , memberi suatu keterangan yang berkaitan dengan totemisme,  yaitu disebutkan antara lain: pada suatu hari meurah Silu,  pergi berburu. Maka ada seekor anjing dibawanya akan perburuan Meurah Silu itu, bernama  si Pasai, maka dilepaskannya  anjing itu, lalu menjalak di atas tanah tinggi itu. Maka dilihatnya ada seekor semut besar, yang merupai  seperti kucing,  maka ditangkap  oleh muerah Silu itu, lalu dimakannya. Maka tanah tinggi itupun,  disuruh Meurah Silu untuk menebas  segala orang-orang  yang ikut besersertanya itu.
Maka setelah itu dibuatlah  istana, setelah itu  Meurah Silupun duduk lah ia di sana, dengan  membentuk  hulubalangn dan Pasukannya, beserta rakyatnya untuk menetap di sana sebagai layaknya Negara kerajaan, maka dinamailah  oleh Meurah Silu negeri Samudera,  artinya semut yang amat besar.Selanjutnya tentang asal nama Pasai, baik Hikayat Melayu maupun Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan sebagai berikut: “Setelah sudah jadi negeri, maka anjing perburuan, yang bernama si Pasai itupun mati,  pada tempat itu, maka disuruh sultan tanamkan dia di sana juga. Maka dinamainya baginda, nama anjing itu nama negeri itu”. Mernut sejarah yang beredar tentang  legenda Anjing itu, adalah di daerah dataran tinggi yaitu Takengon.
Kalau kita berpegang dari keterangan kedua hikayat yang mithologis tersebut, maka nama Samudera berasal dari nama seekor semut besar,  dan nama Pasai berasal dari nama anjing piaraan Raja merah Silu, yaitu si Pasai.
Hal ini sangat menarik untuk diselidiki lebih lanjut,  sejauh mana terdapat hubungan antara totemisme dengan usaha pemberian keterangan tentang asal dan arti kerajaan Islam Samudera Pasai itu.
Karena lazimnya untuk nama kerajaan-kerajaan di Nusantara ini sebelum tahun 1500, diambil dari nama pohon, buah-buahan dan lain sebagainya.Seperti juga disebutkan dalam kedua hikayat tersebut di atas, bahwa raja Samudera Pasai yang pertama sekali menganut agama Islam adalah Malik As Salih.
Pada nisan sultan ini yang dibuat dari batu graniet dapat diketahui bahwa ia mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.
Tentang bagai mana dan siapa yang mengembangkan agama Islam buat pertama kali di kerajaan ini, Hikayat Raja-raja Pasai antara lain meyebutkan sebagai berikut: “pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulya itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda: “Bahwa ada sepeninggalku itu ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya.
Apabila ada didengar kabar negeri itu, maka kami suruh kamu,  abil sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa ia orang dalam negeri masuk agama Islam serta mengutjapkan dua kalimah sjahadat.
Sejarah dan lagi akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanjak dari pada segala wali Allah jadi dalam negeri itu”.Dan tentang pengislaman serta penggantian nama Raja Meurah Silu dengan nama yang baru Malikul Saleh, hikayat itu juga memberi keterangan: “Sumbermulanya,  maka bermimpi Meurah Silu dilihatnja dalam mimpinja itu ada seseorang yang menumpang dagunya, dengan segala djarinja dan matanja ditutupnja dengan empat djarinja, demikian katanja: “Hai Meurah Silu, udjar olehmu dua kalimah Sjahadat”. Maka sahut Meurah Silu “Tiada hamba tahu mengutjap akan dia”.Maka Udjarnya: “Bukakan mulutmu”. Maka dibukanja mulut Meurah Silu, maka diludahinja mulut meurah silu itu, rasanya lemak manis. Maka udjarnja akan merah silu “Hai Meurah Silu engkaulah Sultan Malikul’-Saleh,  namamu sekarang Islamlah engkau dengan mengutjap dua kalimah itu…” Hikayat itu juga menyebutkan bahwa orang yang menyebarkan/mengislamkan Sultan Samudera Pasai itu adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Rasul Allah Salla’llahu’alaihi wasallam, yaitu seorang Syarif berasal dari Mekah yang bernama Syarif Syaih Ismail .
Selain menurut hikayat tersebut, tradisi setempat juga menyebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah itu, adalah Sultan Malik Al Salih. Tetapi menurut catatan, atau suatu sumber yang dimiliki oleh M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa pada awal bulan Zulkaidah 610 Hijrah (1213 M), telah meninggal di kerajaan itu (Samudera Pasai) seorang Wazir Sultan Al Kamil yang bernama,  Maulana Quthubulma’ali Abdurrahman Al Pasi.
Kalau sumber ini benar maka keterangan tersebut,  bermakna bahwa jauh sebelumnya, Malik As Salih sudah terdapat sultan,  yang memeluk agama Islam di kerajaan itu.
Seperti telah disebutkan bahwa raja Samudera Pasai yang pertama berdasarkan sumber sejarah yang konkrit,  ialah Malik As Salih yang meninggal tahun 1297. Kalau dalam tahun 1297, kita kenal sebagai tahun kematian raja itu, tentunya masyarakat Islam,  di kerajaan itu telah terdapat jauh sebelumnya.
Karena pertumbuhan sesuatu biasanya, menghendaki suatu proses, suatu tempo yang lama. Demikian juga dari keterangan yang diberikan Hikayat Raja-raja PasaiI seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa Nabi Muhammad telah menyebutkan nama kerajaan Samudera. Dan juga agar penduduk kerajaan itu,  diislamkan oleh salah seorang sahabat beliau, maka bukan tidak mungkin Islam sudah masuk ke kerajaan itu yaitu Aceh,  tidak lama sesudah Nabi Muhammad wafat.
Jadi pada sekitar abad pertama Hijrah,  atau bertepatan dengan abad ketujuh/kedelapan tahun Masehi. Dan dapat pula diperkirakan bahwa Islam yang masuk itu, langsung datang dari Mekah.
Bukanlah maksud penulis di sini, untuk membuat suatu uraian panjang lebar, tentang masalah proses masuknya Islam ke Kerajaan Samudera Pasai. Sebagaimana telah penulis singgung pada awal tulisan ini, adalah masih sangat sukar untuk merekonstruksikan sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Aceh khususnya, dan umumnya di Indonesia, pada periode sebelum tahun 1500, oleh karena bukti sejarah tentang hal itu masih belum memadai.
Di sini penulis hanya mencoba merangkaikan suatu gambaran sejarah berdasarkan tulisan-tulisan yang telah ada tentang kerajaan itu.
Maka untuk mendapat suatu gambaran historis dari perkembangan Kerajaan Islam Samudera Pasai, berikut ini akan ditinjau beberapa aspek, terutama tentang sistem sosio kulturil yang penulis perkirakan berlaku di kerajan itu.Seperti kita ketahui, Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan yang bercorak Islam dan sebagai pimpinan tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah secara turun temurun.
Lazimnya kerajaan-kerajaan pantai atau kerajaan yang berdasarkan pada kehidupan/kejayaan maritime, yang termasuk dalam struktur kerajaan tradisionil kerajaan-kerajaan Melayu.
Seperti kerajaan Islam Samudera Pasai, disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar).
Seorang Bendahara, seorang Komandan Militer, atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.
Sebagaimana lazimnya sebuah kerajaan maritim, Kerajaan Islam Samudera Pasai dapat berkembang karena mempunyai suatu kekuatan angkatan laut yang cukup besar menurut ukuran masa itu dan mutlak diperlukan untuk mengawasi perdagangan di wilayah kekuasaannya. Dan karena sebagai kerajaan maritim, kerajaan ini sedikit sekali mempunyai basis gararis yang hanya,  diperkirakan berada sekitar sebelah–menyebelah sungai Pasai dan sungai Peusangan saja, dimana terdapat sejumlah kampung-kampung (meunasah-meunasah) yang merupakan unit daripada bentuk masyarakat terkecil di wilayah Samudera Pasai pada waktu itu.
Selain itu meunasah-meunasah ini merupakan lembaga-lembaga pemerintahan terkecil,  dari Kerajaan Samudera Pasai pada waktu itu.
Pengawasan terhadap perdagangan, dan pelayaran di kota-kota pantai yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Samudera Pasai, yang merupakan sendi-sendi kerajaan,  yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan,  dan pajak yang besar,  selain upeti-upeti yang dipersembahkan oleh kerajaan-kerajaan di bawah pengaruhnya.

Categories:

0 komentar:

Poskan Komentar